pencitraan

pencitraan

Minggu, 29 Mei 2011

Noda Globalisasi


            Seiring dengan berkembangnya zaman, mulai dari era primitif hingga sekarang era konsumtif, telah banyak membawa perubahan terhadap karakter dan pola perilaku manusia. Perubahan tersebut tentu tak terlepas dari peran serta teknologi yang hingga kini semakin massif.
            Titik tolak kemajuan teknologi sendiri lahir semenjak revolusi industri di Inggris pada akhir abad ke-18. Sejak itu pula, sebagai sisi negatif dari munculnya teknologi mulai timbul berbagai ketimpangan sosial dalam masyarakat. Kemiskinan, diskriminasi sosial,  kerusakan lingkungan, mewabahnya penyakit, dan lain sebagainya.
            Agaknya fenomena tersebutlah yang kini terjadi di Indonesia. Berkembangnya teknologi, khususnya teknologi komunikasi nampaknya menjadi boomerang terdendiri bagi bangsa ini.
Maraknya peredaran video porno atau mesum di kalangan generasi muda yang diangkat di berbagai media massa, cukup menjadi bukti bahwa saat ini masyarakat sedang terkena sindrom “technology shock” atau guncangan teknologi.
Masyarakat belum siap dengan berbagai teknologi yang ditawarkan para importer dari negara lain. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur.
Teknologi sendiri sebenarnya merupakan faktor yang bebas nilai di masyarakat. Dalam artian, teknologi dapat dimanfaatkan oleh siapa dan untuk apa saja, baik masih di dalam lingkup kode etik maupun diluar kode etik.
Imbas konsepsi tersebut tentunya mengarah pada pola perilaku masyarakat. Maka tak salah jika lahir suatu toeri yang mengatakan bahwa suatu revolusi teknologi pasti akan disusul dengan revolusi dalam perilaku sosial.
Jika statement di atas diaplikasikan, wajar jika di era globalisasi ini, generasi Indonesia terus mengalami degradasi moral.
Pasalnya, berbagai produk teknologi komunikasi telah mengalami metamorfosa dengan dilengkapi berbagai fitur menawan yang menggoda selera masyarakat khususnya remaja dan anak-anak. Layaknya seekor kupu-kupu yang lebih indah dan menawan daripada kepompong.
Di dunia cyber sendiri, hal-hal berbau pornografi mudah diakses serta dikonsumsi oleh remaja. Dan pemerintah dirasa masih kurang memperhatikan hal ini. Jika hanya sebatas undang-undang anti pornoaksi dan pornografi yang aplikasinya saja masih abstrak, nampaknya hanya menjadi sesuatu yang tabu, dalam artian kredibilitas subjek undang-undangnya  belum dapat dipercayakan 100% untuk mengontrol perilaku masyarakat.
Perlu adanya kerjasama antara orangtua dan anak sendiri, serta masyarakat secara keseluruhan untuk saling mengontrol pola perilaku sejak dini.
Tidak salah jika membelikan anak sebuah teknologi terbaru jika memang mampu, akan tetapi perlu diperhatikan juga relevansi antara tingkat kegunaan barang tersebut dengan kebutuhan anak.
Pengaruh teknologi memang di luar kontrol orang tua sebagai pendidik anak. Namun di luar tingkat pengaruh jelek teknologi, untuk meminimalkan potensi menyimpang terhadap pola perilaku anak, orang tua nampaknya juga perlu memperhatikan dan mengarahkan pergaulan anak karena orang tua tentu tak bisa mengawasi aktivitas mereka selama 24 jam.

Napak Tilas Reformasi


Mengungkap kembali tabir kenangan selama 32 tahun bersama pemerintahan Presiden Suharto, mungkin menimbulkan persepsi tersendiri dari berbagai kalangan. Memori yang direkam sebagai kemenangan besar bagi sejarah bangsa Indonesia
Bagaimana tidak, gerakan reformasi yang digembor-gemborkan mahasiswa melalui beberapa aksi dan reaksi akhirnya membuahkan hasil. Kamis, 21 Mei 1998, Pak Harto yang dinilai telah menyalahgunakan kekuasaan, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan kepresidenan.
Betapa tercengangnya dunia mengetahui berita tersebut. Namun apapun  respon dunia, hal tersebut merupakan ujian bagi negeri ini sekaligus merupakan babak baru pemerintahan Indonesia. Perlahan bangsa ini melakukan redesain dan pembenahan struktur internal kepemerintahan dengan sebuah promotor yaitu reformasi.
Namun bukanlah hal yang mudah untuk membenahi kembali Indonesia, mengingat warisan kebobrokan yang ditinggalkan rezim Suharto sudah begitu kronis. Pasalnya, negeri ini telah dibantai secara ekonomi dan politik.
Yang terjadi pasca Suharto adalah orientasi masyarakat kepada kondisi pemerintah mengarah pada sesuatu keadaan yang parah bergerak ke keadaan yang lebih buruk. Sehingga muncul berbagai konsepsi bahwa reformasi merupakan suatu gerakan yang mustahil.
Isu yang muncul selanjutnya adalah proses politik Indonesia serasa tak sehat, menjemukan, dan menemukan jalan buntu, dikarenakan kurangnya komunikasi politik antara pemerintah dengan rakyat. Bahkan hingga saat ini, fakta yang banyak bermunculan ke permukaan ialah bahwa DPR lebih asyik menyuarakan aspirasi penguasa daripada mendengar rintihan rakyatnya.
Para peletak batu pondasi kedaulatan dan kemerdekaan bangsa ini tentu telah berpikir bahwa Indonesia dibangun bukan untuk memanjakan para pejabat dengan berbagai fasilitas yang telah disediakan. Reformasi pun diboyong tentunya bukan untuk menjadi tunggangan para pejabat agar mengulangi kesalahan orde Suharto, bukan untuk bermain politik dan berkprupsi ria.
Fakta bahwa hampir selama 13 tahun terakhir pasca rezim Suharto Indonesia secara berkala mengalami pasang surut dan pasang naik kepemerintahaan, masa kemakmuran dan keprihatinan. Suatu kondisi yang mendiskripsikan bahwa konsep reformasi belum dapat diaplikasikan secara sempurna di tanah air ini.
Sehingga yang terjadi, negeri ini seperti tak punya arah dan tujuan yang jelas. Para punggawanya seakan lupa amanat ideaalisme yang telah diamanatkan dan dipaparkan para pendahulunya dalam punggung Pancasila.
Namun apapun itu, kecacatan reformasi yang menggerogoti bangsa ini masih dapat disembuhkan. Resep mendasar yang harus ditebus para reformis adalah harus segera sadar, bergerak dan bangkit. Untuk paling tidak melakukan rekonstruksi mental guna membangun kepemimipinan yang berkarakter Pancasila dan demokratis

IDE: Suatu Anugerah yang Spektakuler

Bumi ini telah berusia ratusan juta tahun. Transformasi pemikiran dari era purba hingga era modern secara kasat mungkin tidak kita sadari. Tahu-tahu kita secara begitu saja menerima perubahan ini tanpa sebuah pemaknaan episode demi episode, masa demi masa. Meniti sejarah itu tak mudah.
Ide. Sesuatu yang membedakan manusia dengan substansi lain di bumi ini. Ide sangat berharga. Dia sangat halus, menerpa setiap bagiam kehidupan. Ide membuat manusia begitu istimewa di hadapan singa yang meraung dan tulip yang merenung.

Manusia ialah hewan. Namun kemampuan berpikir kita membedakan dengan hewan lainya.