Mengungkap kembali tabir kenangan selama 32 tahun bersama pemerintahan Presiden Suharto, mungkin menimbulkan persepsi tersendiri dari berbagai kalangan. Memori yang direkam sebagai kemenangan besar bagi sejarah bangsa Indonesia
Bagaimana tidak, gerakan reformasi yang digembor-gemborkan mahasiswa melalui beberapa aksi dan reaksi akhirnya membuahkan hasil. Kamis, 21 Mei 1998, Pak Harto yang dinilai telah menyalahgunakan kekuasaan, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari jabatan kepresidenan.
Betapa tercengangnya dunia mengetahui berita tersebut. Namun apapun respon dunia, hal tersebut merupakan ujian bagi negeri ini sekaligus merupakan babak baru pemerintahan Indonesia. Perlahan bangsa ini melakukan redesain dan pembenahan struktur internal kepemerintahan dengan sebuah promotor yaitu reformasi.
Namun bukanlah hal yang mudah untuk membenahi kembali Indonesia, mengingat warisan kebobrokan yang ditinggalkan rezim Suharto sudah begitu kronis. Pasalnya, negeri ini telah dibantai secara ekonomi dan politik.
Yang terjadi pasca Suharto adalah orientasi masyarakat kepada kondisi pemerintah mengarah pada sesuatu keadaan yang parah bergerak ke keadaan yang lebih buruk. Sehingga muncul berbagai konsepsi bahwa reformasi merupakan suatu gerakan yang mustahil.
Isu yang muncul selanjutnya adalah proses politik Indonesia serasa tak sehat, menjemukan, dan menemukan jalan buntu, dikarenakan kurangnya komunikasi politik antara pemerintah dengan rakyat. Bahkan hingga saat ini, fakta yang banyak bermunculan ke permukaan ialah bahwa DPR lebih asyik menyuarakan aspirasi penguasa daripada mendengar rintihan rakyatnya.
Para peletak batu pondasi kedaulatan dan kemerdekaan bangsa ini tentu telah berpikir bahwa Indonesia dibangun bukan untuk memanjakan para pejabat dengan berbagai fasilitas yang telah disediakan. Reformasi pun diboyong tentunya bukan untuk menjadi tunggangan para pejabat agar mengulangi kesalahan orde Suharto, bukan untuk bermain politik dan berkprupsi ria.
Fakta bahwa hampir selama 13 tahun terakhir pasca rezim Suharto Indonesia secara berkala mengalami pasang surut dan pasang naik kepemerintahaan, masa kemakmuran dan keprihatinan. Suatu kondisi yang mendiskripsikan bahwa konsep reformasi belum dapat diaplikasikan secara sempurna di tanah air ini.
Sehingga yang terjadi, negeri ini seperti tak punya arah dan tujuan yang jelas. Para punggawanya seakan lupa amanat ideaalisme yang telah diamanatkan dan dipaparkan para pendahulunya dalam punggung Pancasila.
Namun apapun itu, kecacatan reformasi yang menggerogoti bangsa ini masih dapat disembuhkan. Resep mendasar yang harus ditebus para reformis adalah harus segera sadar, bergerak dan bangkit. Untuk paling tidak melakukan rekonstruksi mental guna membangun kepemimipinan yang berkarakter Pancasila dan demokratis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar